Jumat, 24 April 2020

MATERI DASAR MESIN BUBUT

1. MEMBUBUT (TURNING)

      Dengan membubut dapat dibuat produk-produk yang pada umumnya berbentuk silinder. Benda kerja diputar oleh mesin dengan bantuan alat pencekam dan dimakan oleh perkakas potong (pahat) yang digerakkan terhadap benda kerja. Bentuk benda kerja bubut yang berbeda-beda,  dibuat de ngan berbagai macam proses pembubutan. Tergantung bagian luar atau bagian dalam benda kerja yag dikerjakan, maka kemudian disebut pembubutan luar dan pembubutan dalamPada mesin bubut juga dapat dikerjakan proses-proses yang lain seperti mengebor, counter boring, counter sinking, reaming maupun mengetap dan sney.

2. MESIN BUBUT KONVENSIONAL
 Gambar 1. Mesin Bubut

 Bagian - bagian utama pada mesin bubut :

 A. Kepala  Tetap

          Tempat kedudukan spindel utama. Spindelnya sendiri berlubang, dan pada ujung depannya lubangnya berbentuk tirus dan bagian luarnya terdapat fasilitas guna pemasangan benda kerja. Terdapat pula lemari roda gigi, baik untuk pengaturan kecepatan spindel maupun feeding.
Gambar 2. Kepala Tetap

 B. Kepala Lepas

          Berfungsi untuk (a) Pendukung benda kerja yg panjang dengan bantuan senter kepala Lepas, (b) tempat pemasangan perkakas potong (bor, reamer) dan (c) pembubutan tirus.
Gambar 3. Kepala Lepas

C. Bed

          Berfungsi sebagai pendukung (kep. tetap, kep. Lepas dan support) dan sebagai pengarah (support, kep. Lepas).
Gambar 4. Bed / landasan
E. Support (Carriage)

     Terdiri atas:
      ·         Appron (roda-roda gigi penggerak otomatis)
      ·         Eretan memanjang
      ·         Eretan melintang
      ·         Eretan atas
      ·        Tool post
Gambar 5. Carriage

3. PERKAKAS PEMEGANG BENDA KERJA


3.1 Chuck cakar 3 dan chuck cakar 4 memusat  (3 jaw and 4 jaw universal chuck). 
         Untuk pencekaman benda-benda kerja bulat, segi 6 dan segi-segi lain yang dapat dibagi 3.
        Biasanya dilengkapi dengan cakar balik (reverse jaw) dan soft jaw. Soft jaw dapat dibubut pada tempatnya untuk menyesuaiakn dengan diameter benda kerja yang telah dikerjakan sebelumnya (untuk pekerjaan presisi).
Gambar 6. Chuck
3.2 Chuck cakar 4 independet (4 jaw independent chuck)
Untuk pencekaman benda kerja bulat, segi 4, segi 8 dll.
 Gambar 7. Chuck Cakar 4

3.3 Chuck Pelat rata (face plate) dan pelat sudut (angle plate)

Untuk pencekaman dan pemasangan benda kerja dengan bentuk tak beraturan.
Untuk menghindari putaran yang tak beraturan, diberilah penyeimbang.

 Gambar 8. Chuck Pelat Rata

 3.4  COLLET Chuck pada Mesin Bubut
         Collet chuck adalah alat cekam presisi, untuk pencekaman permukaan halus yang telah selesai dikerjakan. Satu collet untuk satu macam diameter saja.
Gambar 9. Collet Chuck

 Collet chuck::  1. Collet chuck tarik

                         2. Collet chuck tekan

3.5 MEMBUBUT DI ANTARA DUA SENTER

        - Untuk mengerjakan benda kerja yang panjang.
        - Pada kedua ujung benda kerja dibuat lubang senter terlebih dahulu.
Gambar 10. Bubut di antara 2 senter
          - Sleeve dan center kepala tetap.
          - Senter berputar (live center), dipasang pada kepala lepas.
          - Pengaturan kelurusan kedua ujung senter.

          - Lubang senter dan center drill
3.6 Mandrel
      Mandrel untuk menegrjakan bagian luar benda kerja, yang harus konsentris terhadap lubang yang telah dibuat sebelumnya.
Gambar 11. Mandrel
Gambar 12. Expanding mandrel
Gambar 13.  Mandrel universal




Macam-macam Proses Permesinan

1. MACAM - MACAM PROSES PERMESINAN




2. PENGELOMPOKAN MESIN-MESIN PERKAKAS
2.1.     Mesin-mesin perkakas dengan perkakas potong yang secara geometris terukur/teratur
· Mesin bubut
· Mesin frais
· Mesin bor

2.2.     Mesin-mesin perkakas dengan perkakas potong yang secara geometris tak terukur / tak teratur
· Mesin gerinda
· Mesin honing
· Mesin lapping

3. MACAM - MACAM GERAKAN PADA MESIN PERKAKAS


1.    Gerak Utama atau Gerak pemotongan
·Merupakan gerak putar (mesin bubut, mesin frais, mesin bor)
·Ataupun gerak lurus / translasi (mesin sekrap, mesin gergaji
·Dilakukan oleh perkakas potong (mesin frais, mesin bor, mesin gerinda)
·Dilakukan oleh benda kerja (mesin bubut, mesin planner)

v    DIUKUR DALAM METER / MENIT (Vc)

2.    Gerak   IN – FEED / gerak pengumpan ( depth of cut), Menentukan lebar tatal     ( a ) (lihat gb. Sebelah kiri)

v  DIUKUR DALAM MILIMETER (mm)

3.     Gerak feeding / gerak pemakanan
Gerakan ketiga yang memungkinkan proses pemesinan / penyayatan tatal berlanjut.
Menentukan tebal tatal ( f ) (lihat gb. Sebelah kiri)

v  DIUKUR DALAM MILIMETER / PUTARAN ATAU MILIMETER / MENIT

CONTOH MACAM GERAKAN MESIN

Tugas: Tentukan mana gerak pemotongan / gerak utama, gerak in-feed dan gerak feeding, pada proses-proses pemesinan di bawah ini!

Keterangan:  H = gerak pemotongan
Z = gerak in-feed
V = gerak pemakanan (feeding)



Senin, 20 April 2020

Garis Bayang - bayang

1. Benda kerja dengan garis bayang-bayang


1.1 Garis bayang-bayang digambarkan sebagai garis putus-putus dengan ketebalan 7/10 dari garis benda. 
      Panjang masing-masing garis tergantung pada ukuran gambar. Agar memberikan gambaran garis celahnya 
      dibuat sedikit kecil (1-1/5 mm).
1.2 Garis putus=putus dimulai dan diakhiri dengan garis pada tepi gambar.
1.3 Pada perubahan dari garis benda ke garis bayang-bayang harus diawali dan diakhiri dengan celah.
1.4 Garis putus-putus selalu dipertemukan dengan garis (membuat sudut yang utuh).
1.5 Garus bayang-bayang yang bersilangan harus berpotongan pada garis.
1.6 Garis bayang-bayang yang sejajar berjarak dekat celahnya dibuat/dilukis dengan saling menutupi.
1.7 Jika garis bayang-bayang dan garis sumbu berhimpitan, maka yang digambar adalah garis bayang-bayang.
Catatan : Garis ukuran tidak dapat dicantumkan pada garis bayang-bayang.

Benda Kerja Bentuk Piramid

1. Benda Kerja Bentuk Piramid
1.1 Dua buah pandangan umumnya cukup untuk menggambarkan  suatu benda piramid.
      Satu pandangan cukup untuk menggambarkan piramid dengan dasar alas bujur sangkar.



1.2 Kemiringan/pendakian suatu daerah dapat dinyatakan sebagai perbandungan kemiringan atau bisa dalam
      prosentase. Sudut kemiringan dapat juga dicantumkan dengan simbol segi tiga.

Pendakian = B - b = 20 – 10 = 1 : 4
                        L            40

Tan β = 20 – 10 = 1
                40         4

1.3 Tingkat ketirusan dari model piramid adalah perbandingan dari perbedaan lebar terhadap panjang piramid.
Derajat ketirusan  = B - b = 40 – 20 = 1 : 2
                                   L            40
Ketirusan diperlihatkan dengan simbol segitiga seperti pada gambar d bawah ini :

1.4   Daerah bidang datar pada pandangan diperlihatkan dengan garis diagonal tipis, jika tidak dimunculkan 
        pada pandangan berikutnya.

1.5  Menggambar panjang garis sebenarnya dari proyeksi suatu garis.

Materi Alat Ukur Teknik

MENGUKUR DENGAN MENGGUNAKAN ALAT UKUR

1. MEMBEDAKAN SISTEM PENGUKURAN
            Kualitas produk merupakan masalah yang tidak bisa diabaikan, oleh karenanya pengetahuan tentang pengukuran yang dilakukan terhadap benda kerja merupakan produk yang  sangat vital dalam menjamin kualitas dari produksi yang dihasilkan. Pengetahuan tentang pengukuran yang dimaksud adalah pengetahuan teknik untuk melakukan pengukuran atas bagian-bagian dan suatu benda hasil produksi, baik mengukur dimensi ataupun sifat geometris, berat, temperatur, kekerasan dari suatu produk atau parts mesin dengan alat dengan  cara yang tepat, sehingga hasil pengukurannya dianggap sebagai hasil yang paling dekat dengan ukuran sesungguhnya.

1.1 Klasifikasi Pengukuran
            Untuk mendapatkan pengukuran dengan tepat, dituntut adanya pengetahuan dan kemampuan mengoperasikannya yang memadai dan kemampuan untuk membedakan berbagai sistem pengukuran sesuai dengan spesifikasi/geometris benda yang akan diukur. Dengan kata lain setiap orang yang bekerja dalam bidang teknik harus mengetahui teknik pengukuran yang mempunyai ruang Iingkup tentang bagaimana cara menggunakan alat ukur dengan benar dan pengetahuan lain yang berkaitan erat dengan masalah pengukuran. Hanya saja penggunaan alat ukur tersebut juga akan dipengaruhi oleh berbagai hal diantaranya :
- Besar benda yang akan diukur,
- kondisi (fisik) benda yang akan diukur,
- posisi benda yang akan diukur,
- Tingkat ketelitian yang direncanakan
- efisien
- dsb

Dalam prakteknya pengkuran dapat diklasifikasikan antara lain ;
- Panjang
- Berat
- Temperatur
- Sudut
- Kerataan

A. Mengukur Panjang
Bagian yang termasuk pada klasifikasi pengukuran panjang adalah;
- diameter
- tebal
- tinggi
- lebar
-  melingkar.
-  Bidang.
        Untuk mengukur panjang dapat digunakan beberapa alat ukur, seperti: mistar baja, meteran gulung, jangka sorong, jangka kaki, jangka bengkok, pengukur ketinggian, dan alat ukur lainnya. Alat ukur ini termasuk pada pengukuran langsung. Dimana hasil pengukurannya dapat dibaca langsung pada alat ukur tersebut. Semua alat ukur tersebut hanya dibedakan oleh kapasitas alat ukur dan bentuk benda yang akan diukur.
Gambar 1. Penggaris dan Meteran
Gambar 2. Vernier Caliper (Jangka Sorong)
Gambar 3. Mikrometer

B. Mengukur Berat
Gambar 4. Neraca Pengukur Berat

           Banyak tipe yang digunakan dalam mengukur berat suatu benda pembacaan skala  secara digital maupun secara manual. Demikian juaga halnya dalam menghitung suatu berat benda juga tergantung kepada dimensi benda yang diukur dan kapasitas dari alat ukur tersebut.

C. Mengukur Temperatur
         Pengukuran temperatur dapat digunakan termometer atau alat yang sejenisnya. Alat ini dalam pembacaannya tidak memerlukan suatu teknik yang khusus.

D. Pengukur kerataan (Straiht gauge)
       Pengukur kerataan (Straiht gauge) Dial Indicator digunakan Dial Indicator untuk mengukur perbedaan ketinggian/set up mesin dan juga dapat digunakan untuk mengukur kerataan.

E. Mengukur Sudut (Angle Measure)
        Busur sudut (Protractor ) digunakan untuk menandai/mengukur suatu sudut atau kemiringan benda kerja. Alat lain yang juga dapat digunakan yaitu kombinasi set (vernier, Protractor).

2. Unit Pengukuran dan Konversi
       Sistem pengukuran yang digunakan khususnya dalam bidang teknik adalah sistem matrik dan ada juga yang menggunakan sistem imperial (pembagaian dalam satuan Inggris) khususnya pengukuran panjang, berat, dan temperatur. Dasar dari unit pengukuran dalam bidang keteknikan adalah:

Besaran
metrik
imperial
Panjang
Temperatur
Berat
meter (m)
Celcius (oC)
kilogram  (kg)
feet
Fahtenheit
pound
3. Panjang
        Mengukur panjang suatu benda merupakan pengukuran yang dimulai dengan menarik garis dari sutu titik ke titik ke dua dengan lurus atau dapat dikatakan suatu garis lurus. Jika pengukuran yang dilakukan terhadap garis tengah lingkaran atau diameter pada adasarnya adalah menarik garis lurus dari sisi pertama ke sisi yang lain.
Dalam sistem matrik unit yang sering digunakan dalam ilmu teknik dalam mengukur panjang adaah milimeter (mm ). Dimana 1000 mm sama dengan I m
1000 mm = 1 m

Jika pengukuran yang sangat panjang satuan yang digunakan adalah kilometer. Dimana 1000 meter sama dengan satu kilometer.
1000 m = 1 km

Pada sistem Imperial, feet merupakan  satauan yang digunakan untuk mengukur panjang  dalam bengkel (workshop) dan sebagian industri pemesinan. Pengukuran panjang yang ukuran pendek digunakan satuan inchi (in atau “)
12” = 1 ft
Satuan lain yang digunakan dalam pengukuran panjang  dalam sistim imperial adalah yard (yd)  dan mile
3 ft = 1 yd
5280 ft = 1 mile
Satuan yang digunakan dalam satuan metrik dan imperial dapat dihitung dengan sistim konversi faktor.  Beberapa bengkel (workshop) teknik untuk memudahkan dalam menerjemahkan/pembacaan ukuran digunakan tabel konversi.
Dalam prakteknya konversi antara ukuran metrik ke ukuran imperial atau sebaliknya, hasil konversi untuk metrik digunakan dua angka debelakang koma sedangkan untuk imperial digunakan 3 angka debelakang koma.

Untuk konversi milimeter ke inchi,

1 in = 25,4 mm
Konversi 10 mm ke inchi.
                   10 mm  :  25,4 = 0,394”

Konversi 44,45 mm ke dalam satuan inchi,
                   44,45 mm  :  25,4 = 1,75” 

Konversi 2” ke mm
                   2”  X  25,4  =  50,8 mm

Pengukuran yang menggunakan satuan imperial ukuran yang ditulis sering menggunakan bilangan pecahan seperti 1/2 ” jika ukurannya kurang dari satu.

Ukuran pada satuan inchi ditulis tidak menggunakan bilangan berkoma/desimal tetapi dengan bilangan pecahan.

Konversi 3/8 inchi ke  bilangan desimal
                   3 : 8  = 0,375 “
Jika ukuran bilangan bulat dengan pecahan ( contoh 11/2 “). Untuk memudahkan dalam konversi bilangan ini dapat dilakukan dengan cara menjadikan bilangan pecahan kedalam bilangan berkoma. Contoh:

Konversi 111/16” ke dalam  mm
Penyelesaian;
11/16”   jadi  11 : 16 = 0,688”
                   111/16”  = 1,688”
v  1,688” X 25,4 = 42,88 mm

Konversi  feet ke meter dan milimeter, 1 m = 3,2808 ft
3’ : 3,2808 = 0,91441 m
                             = 914,41 mm

Bentuk konversi yang sering digunakan dalam bengkel (workshop) adalah bengan cara  memisahkan konversi antara bilangan bulat dengan bilangan pecahan Contoh;

Konversi 21/2” ke dalam mm
Penyelesaian;
           1/2”      = 12.7 mm
      2”         = 50,8 mm
                  21/2”     = 63,50 mm

Konversi  12,54 mm ke inchi
Penyelesaian;
           10 mm  =  0,3937”
            2  mm  =  0,0787”
        0,54 mm  = 0,0213”
           12,54 mm = 0,4937” 
4. Temperatur
         Pengukuran temperatur satuan yang digunakan dalam satuan metrik adalah Celcius (0C). Sistim imperial satuan yang digunakan adalah Fahrenheit (oF). 
               Pada sistim metrik temperatur sering juga disebut skala perseratus. Celcius dan skala perseratus simbol yang digunakan sama.
5. Berat
      Satuan untuk mengukur/menimbang berat yang digunakan dalam sistem metrik adalah gram (g), kilogram (kg), dan ton. Konversi gram ke kilogram dan kilogram ke ton adalah;
1000 g = 1 kg
1000kg = 1 ton

Pada sistim imperial satuan untuk mengukur berat adalah ounce (oz), pound  (lb), dan  ton (t).
16 oz = 1 lb
2240 lb = 1 t

Perubahan kilogram ke pound,  satu kilogram = 2.2046 pound
Konversi 80 kg ke pound
            80 kg X 2,2046 = 176,4 lb

Perubahan kilogram ke pound,  satu kilogram = 2.2046 pound
Konversi 80 kg ke pound
      80 kg X 2,2046 = 176,4 lb

Perubahan pound ke kilogram,  satu poung = 1/2.2046 kilogram
Konversi 210 pound ke kg
      210 pound : 2,2046 = 95,3 kg

Perubahan gram ke ounce,  satu gram = 28,35 ounce (oz)
Konversi 17,6 ounce ke gram
      17,6 oz x 28,35 = 498,96 gr

Perubahan ounce ke gram,  satu ounce = 1/28,35  ounce (oz)
Konversi 453,6 gr ke oz
            453,6 gr: 28,35 = 16 oz